Total Tayangan Laman

Rabu, 27 Februari 2013

Tak Tahu Terima Kasih


Ketika Indonesia sudah bisa membuat pesawat, negara lain baru bisa membuat kereta api. Karya anak bangsa yang sempat terbang, meski harus jatuh lagi. Terlepas apapun yang terjadi. Ternyata kita langsung saja "menghujat" kegagalan seseorang. Padahal orang tersebut telah menmgorbankan waktunya, keuntungan pribadinya dan dirinya agar bisa membuat Indonesia bermartabat di era awal kemerdekaan.

Sering kali kita lebih melihat cacat seseorang dari pada kelebihannya. lalu membuang jauh-jauh kelebihan seseorang itu dari hadapan kita. Padahal kita sendiri belum mampu melakukan apa yang telah ia lakukan dan korbankan.


Terlepas dari apa saja kekurangan dalam masa pemerintahan Pak Habibie, kita ternyata menjadi bangsa yang tidak tahu terima kasih. Setelah kegagalan yang belum sempat diperbaiki, semua tentang Pak Habibie seperti dibuang jauh ke dalam samudra.

Pun dengan masa pemerintahan Presiden Soeharto. Beliau memang terkenal sebagai pemimpin otoriter. Terlebih bagi umat Islam. Pengajian dilarang, memakai jilbab dilarang, bahkan sedikit berbeda pandangan akan disiapkan peluru. Tapi apakah yang dilakukan beliau semuanya buruk. Saya masih meyakini, manusia masih dibekali akal yang bisa membedakan yang baik dan tidak. Pasti ada satu sisi positif seseorang sebejat apapun orang itu. Terlebih orang sekelas Pemimpin.

Terlepas dari kejahatan jabatan yang dilakukan Pak Harto, bukankah nyatanya kita belum bisa memberikan solusi ekonomi dan pembangunan untuk bangsa ini seperti yang telah beliau lakukan. Tapi ternyata kita langsung membuang semua hal yang berkaitan tentang beliau hanya karena kesalahan beliau.Ibarat kita mempunyai baju. Setelah dipakai langsung dibuang. Kita sangat kaya memang. Hingga saat ini belum juga terwujudkan.

Padahal kita adalah bangsa yang terkenal dengan sopan santunnya. Kitalah bangsa yang terkenal menjaga etika dengan yang lebih tua, muda, bahkan sejajar. Jika kita tidak bisa menghargai pemimpin kita, bagaimana kita bisa menghargai bagsa kita. Terlebih lagi, bagaimana kita bisa menghargai "bawahan" kita. Bukankah pemimpin adalah wajah dari yang dipimpin.

Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Hanya malaikat yang tak pernah melakukan dosa. Jika kita marah dengan kesalahan orang, kenapa kita tak marak dengan kesalahan kita sendiri?

sumber gambar: internet