Total Tayangan Laman

Minggu, 20 Juli 2014

Benar-Benar Guru

Dari dahulu entah mengapa saya sering kali ngefans sama seseorang guru. Mungkin terlihat kece gitu kali ya. Belum tentu fisik, walaupun biasanya secara fisik juga rapi, tapi lebih pada jiwa mereka. Bagi saya, itu kece bangeeet.

Sekitar dua tahun selama saya menjadi mahasiswa S1 di Ugm -kayak sekarang udah S berapa aja- saya tinggal di asrama mahasiswi. Konsepnya seperti pesantren atau lebih mirip dengan Islamic Boarding School. Saya tak tahu pasti lebih mirip yang mana, karena saya belum pernah di Pesantren maupun di Islamic Boarding School. Kuliah di Kampus seperti biasa lalu setelah magrib ada kelas di asrama sampai sekitar pukul 9 dan setelah subuh sampai sekitar pukul 6.

Meskipun di Asrama saya termasuk sebagai santri yang nakal, tapi jujur saya ngefans banget sama dosen-dosen yang ngajar kami di Asrama. Sebut saja Ustadz Talqis, beliau sekarang menjadi Kaprodi Bahasa Arab di UMY. Beliau lulusan Lipia Jakarta lalu melanjutkan di Al Azhar Mesir setelah itu di Ugm. Kece banget ilmu bahasa arabnya. Maklum... lulusan Al Azhar gitu. Saya yang awalnya 0 dalam bahasa arab jadi bisa bahasa arab. Belum lancar sih, tapi sedikit-sedikit ngerti lah conversation-nya.

Selanjutnya ada ustadz Ahmad Dahlan. Beliau adalah ahli hadist. Setelah lulus dari Lipia Jakarta, beliau melanjutkan ke Madinah lalu mengambil Doktor di Malaysia. Tafsir hadistnya kece. Referensinya manteb banget. Beliau ngajar lengkap disebutkan sumbernya.

Ada juga Dr. Tulus Mustofa, Ustadz Syafi'i, Ustadz Sholihun, Umi Habibah, Umi Widi dan tentunya pasangan ustadz Deden dan Umi Isma. Rata-rata dosen di Asrama saya sudah selesai Master atau nyantri di banyak tempat selama bertahun-tahun. Bisa kebayang kan betapa expert nya beliau.

Tapi bukan sekedar expert yang membuat saya ngefans sama beliau. Tapi kelapangan jiwa beliau. Sabar menghadapi kenakalan orang-orang seperti saya, tetap mendoakan saya dan teman-teman. Beliau yang expert, totalitas dalam mengajar, dan tak peduli dengan bayaran. Padahal ada diantara beliau yang rumahnya  jauh dari Asrama kami, butuh sekitar satu jam perjalanan. Meskipun hujan, sering kali tetap berangkat untuk mengajar di Asrama kami. kece banget nggak siiih....

Dulu sewaktu SMP saya juga memiliki guru yang seperti beliau. Bayangkan, iya bayangkan sekarang. dari kelas satu SMP saya tidak suka matematika, setiap pelajaran matematika yang saya fikirkan adalah kapan kelas ini akan berakhir, horor. Haha, saking tidak suka dengan matematika. Tapi sewaktu kelas tiga, guru saya bu Siti Saadah membuat fikiran saya berbalik total. Saya jadi suka banget matematika. Artinya, pelajaran matematika dari kelas 1 SMP sampai kelas 3 ter-back up oleh pengajaran beliau. Hingga Nilai Ujian Nasional Matematika saya nyaris 10, tanpa Nyontek!  Menakjubkan bukan?

Banyak guru-guru saya yang menginspirasi saya atas kecerdasan dan kelapangan jiwa beliau. Semoga semakin banyak guru-guru yang berjiwa guru.

Teruntuk guru-guru SD, SMP,SMA dan Kuliah saya diantaranya Bu Har, Pak Rosyidi, Mr. Damin, Pak Triy, Pak Rasmo, Bu Sri, Mr. Yono, Pak Radite, Pak Bowo, Bu Titik dll. Semoga limpahan Rahmat Allah untuk Beliau selama beliau hidup hingga di akhirat kelak. Pahala yang mengalir dari tiap ilmu yang kami murid-muridnya amalkan dan ajarkan ke orang lain. Semoga Kebahagian dunia akhirat untuk beliau guru-guru saya, yang sakit semoga diangkat sakitnya, yang sedang macet rejeki semoga dilancarkan rejekinya, yang sedang melajutkan studi semoga dimudahkan dalam belajarnya, yang sedang diuji rumah tangganya semoga dijadikannya keluarga yang sakinah mawaddah rahmah wabarakah. Semoga kami termasuk orang-orang yang bersyukur atas takdir terbaik yang telah Allah pilihkan untuk kami. Amiin.

Jumat, 18 Juli 2014

Tamu dari Perancis

Beberapa hari yang lalu saya diajak teman untuk menemaninya menjadi guide. Ceritanya, temennya dari Perancis lagi traveling ke Indonesia. Dengan senang hati saya meng-iya-kan. Secara, saya emang paling suka traveling, terus dapat teman baru dari luar negeri. Lumayan lah, kali aja bisa traveling ke Perancis suatu saat. Amiin

Salah satu hal yang ngebuat saya jleb-jleb pada pengalaman tersebut adalah, saya belum kemana-mana. Saya manusia yang berkewarganegaraan Indoneisa, Berbahasa Indonesia, dan bertanah air Indonesia belum keliling Indonesia. Duh... malu sendiri. Untung nih ya waktu menemani mereka mahasiswa Perancis itu saya sudah pernah ke tempat yang mereka akan tuju di Yogyakarta.

Bagi saya, traveling itu bukan hanya untuk seneng-seneng meskipun seneng-seneng ada di dalamnya. Lebih penting dari itu, traveling mengajarkan saya untuk lebih bisa memaknai hidup. Jangan-jangan akhir-akhir ini hidup saya jadi kurang bermakna karena kurang traveling. Haha. Ah lanjut lagi, dengan traveling saya mengetahui bahwa manusia itu beragam dengan sifatnya, budayanya yang macem-macem. Maka itu saya mendefinisikan traveling bukan sekedar jalan ke tempat wisata, tapi mengunjungi sahabat di kota lain, itu juga bagian dari traveling.

Traveling juga membuat saya lebih sensitif dengan keadaan sekitar. Beda lho rasanya tahu budaya orang lain dari membaca dengan merasakannya sendiri. Ini melatih saya untuk lebih bisa menjadi lebih open mind. Kuncinya, semakin banyak mengenal macam-macam orang, maka insyaallah jiwa semakin lapang.

Semoga dalam waktu dekat ini diberikan kesempatan Allah untuk menjelajah Indonesia lalu ke luar negeri. Pengen banget diving di Bunaken, naik kuda di Lombok, menjelajahi perusahaan kehutanan di Kalimantan, surfing di pantai Losari dan bercengkrama dengan orang-orang Medan, Lampung Raja Ampat, Maluku di rumah-rumah mereka. Sederhana tapi itu mengagumkan.

Reason

Lama banget saya enggak ngeblog lagi... setelah "pembersihan" blog secara besar-besaran... Mulai saat ini saya mau nulis yang sifatnya lebih santai yak... biar hidup lebih asik.

Ocey guys, sekarang saya mau cerita satu pengalaman menarik dalam fase hidup saya sendiri. 

Pernah nggak sih merasa jalan di tempat, enggak ada kemajuan dalam hidup, enggak semangat. Life is flat ! Itu yang akhir-akhir ini saya rasain. Annoying banget kan? Mungkin ini  adalah pelajaran untuk saya lebih bersyukur agar lebih memaknai tentang hidup yang Barokah! 

Setelah saya merenung panjang, akhirnya saya mendapatkan jawabannya. Reason! yah, alasan apa saya melakukan ini dan itu. Semakin kuat reason seseorang dalam hidup, dalam melakukan sesuatu insyaallah semakin semangatlah ia dalam prosesnya. 

Semangat dalam proses bukan berarti tidak ada kesulitan. Tapi membuat kesulitan, kelelahan bahkan pandangan tidak mendukung dari orang lain tetap saja terasa nikmat. Bahkan menambah semangat untuk terus melakukannya. Dan itu saya rasakan jika reason itu adalah Allah. 

Ketika saya menjadikan reason atas apa yang saya lakukan adalah karena Allah, serius dah hidup saya jadi indah. Bahkan sekedar nyuci aja jadi indah. Nggak ada yang sia-sia. Semua ada maknanya guys. Rasa lelah itu rasanya manis. 

Tapi tidak cukup sampai disitu. Saya harus menemukan hubungan antara Allah sebagai reason dengan yang saya kerjakan. Setelah itu bagaimana memupuk semangat agar istiqomah pada Allah sebagai reason atas yang kita kerjakan. Semoga lain waktu saya bisa menuliskannya disini